Jam menunjukkan pukul 11 malam. Laptop masih menyala. Notifikasi kerja terus berdatangan, sementara kopi di meja sudah dingin sejak satu jam lalu.
Di sela lembur itu, seorang anak muda membuka TikTok. Lalu, muncul video dengan tulisan sederhana:
“Aku resign demi hidup lebih tenang, dan itu keputusan terbaik.”
Kolom komentarnya langsung penuh respons. Ada yang bilang akhirnya bisa tidur nyenyak setelah keluar dari pekerjaan lamanya. Sementara itu, ada juga yang mengaku capek hidup cuma untuk kerja. Bahkan, beberapa orang merasa gajinya naik, tetapi kesehatan mentalnya ikut turun.
Kalau beberapa tahun lalu hustle culture dianggap keren, sekarang banyak orang mulai mempertanyakannya.
Apakah hidup memang harus selalu sibuk?
Dulu Sibuk Itu Simbol Sukses
Hustle culture sebenarnya bukan hal baru. Budaya ini sudah lama hidup di dunia kerja, terutama sejak era startup dan media sosial berkembang pesat.
Di media sosial, orang berlomba terlihat produktif. Misalnya, LinkedIn dipenuhi cerita soal lembur dan kerja keras. Selain itu, Instagram penuh rutinitas bangun pagi, meeting tanpa jeda, dan motivasi untuk terus grinding demi masa depan.
Kalimat seperti “no days off” atau “kerja keras sekarang, nikmatin nanti” pernah jadi simbol ambisi.
Akibatnya, semakin sibuk seseorang, semakin dianggap sukses.
Namun, tidak semua orang kuat hidup dalam tekanan seperti itu.

Gen Z Mulai Punya Cara Pandang Baru
Gen Z tumbuh di era yang berbeda. Mereka melihat banyak hal yang akhirnya mengubah cara memandang pekerjaan.
Mereka menyaksikan pandemi, PHK massal, tekanan media sosial, sampai biaya hidup yang terus naik. Di sisi lain, banyak juga yang melihat generasi sebelumnya bekerja keras selama bertahun-tahun, tetapi tetap merasa hidupnya belum benar-benar aman.
Karena pengalaman itu, banyak Gen Z mulai sadar bahwa kerja keras memang penting. Meski begitu, kerja keras ternyata tidak selalu menjamin hidup tenang.
Buat generasi ini, pekerjaan bukan cuma soal gaji atau jabatan. Sebaliknya, mereka mulai peduli pada kesehatan mental, work-life balance, fleksibilitas kerja, dan makna dari pekerjaan itu sendiri.
Mereka ingin sukses tanpa harus kehilangan hidupnya sendiri.
Kenapa Gen Z Sering Dianggap Malas?
Di sinilah perdebatan mulai muncul.
Sebagian orang menganggap Gen Z terlalu lembek. Dikit-dikit burnout. Dikit-dikit healing. Dikit-dikit resign.
Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Gen Z bukan tidak mau kerja keras. Faktanya, banyak dari mereka tetap ambisius dan punya target besar. Mereka juga tetap ingin karier bagus, finansial stabil, dan masa depan yang aman.
Akan tetapi, definisi sukses mulai berubah.
Kalau dulu sukses identik dengan lembur dan selalu tersedia untuk pekerjaan, sekarang sukses bisa berarti punya waktu istirahat, menikmati hidup, tetap sehat secara mental, dan punya waktu untuk diri sendiri.
Ketika Produktivitas Berubah Jadi Toxic
Masalah terbesar hustle culture sebenarnya bukan soal kerja kerasnya. Sebab, kerja keras tetap penting.
Yang jadi masalah adalah ketika seseorang merasa harus selalu produktif agar merasa berharga.
Akibatnya, banyak orang merasa bersalah saat istirahat. Rebahan sebentar bikin tidak tenang. Bahkan, libur malah kepikiran pekerjaan. Tidak sedikit juga yang menganggap balas email tengah malam sebagai hal normal.
Sayangnya, media sosial ikut memperparah semuanya.
Setiap hari kita melihat orang lain terlihat sukses. Ada yang launching bisnis, closing project besar, kerja full-time sambil freelance, ikut webinar, olahraga, dan tetap terlihat sempurna.
Lama-lama, muncul rasa tertinggal.
Padahal, yang terlihat di internet sering kali hanya potongan terbaik hidup seseorang.
Jadi, Hustle Culture Masih Relevan?
Jawabannya tidak sepenuhnya salah atau benar.
Kerja keras tetap dibutuhkan. Bagaimanapun juga, banyak mimpi besar lahir dari disiplin, konsistensi, dan pengorbanan.
Ada fase dalam hidup ketika seseorang memang harus bekerja ekstra keras. Contohnya saat membangun bisnis, mengejar target, atau memperbaiki kondisi hidup.
Namun demikian, dunia kerja sekarang mulai berubah.
Produktivitas tidak lagi selalu diukur dari siapa yang paling sering lembur atau siapa yang online paling malam.
Selain itu, banyak perusahaan mulai sadar bahwa karyawan yang burnout justru sulit bekerja maksimal dalam jangka panjang. Karena alasan itu, isu kesehatan mental dan work-life balance mulai mendapat perhatian lebih besar.
Gen Z Tidak Sedang Melawan Kerja Keras
Gen Z sebenarnya tidak sedang melawan semangat kerja keras.
Sebaliknya, mereka hanya ingin bekerja tanpa kehilangan diri sendiri.
Mereka ingin tetap punya waktu untuk hidup di luar pekerjaan. Mereka juga ingin punya waktu istirahat tanpa rasa bersalah. Selain itu, mereka ingin sukses tanpa harus terus merasa lelah setiap hari.
Karena pada akhirnya, hidup bukan cuma soal bertahan dari Senin sampai Jumat.
Kadang, sukses sesederhana bisa tidur cukup, bekerja dengan tenang, dan tetap punya energi untuk menikmati hidup.
Definisi Sukses Sedang Berubah
Hustle culture mungkin belum sepenuhnya hilang. Namun sekarang, semakin banyak orang mulai sadar bahwa hidup yang ideal bukan tentang bekerja tanpa henti.
Melainkan tentang tahu kapan harus bekerja keras dan kapan harus berhenti sejenak untuk bernapas.
Sebab, sukses bukan cuma soal pencapaian.
Tetapi juga soal bagaimana kita tetap bisa menikmati hidup di tengah semua tekanan.
