Siswa SMK di Samarinda Meninggal Usai Keluhkan Sepatu Kekecilan, Publik Soroti Ironi Anggaran MBG

Kisah pilu datang dari Samarinda, Kalimantan Timur. Seorang siswa SMK bernama Mandala Rizky Syaputra meninggal dunia pada April 2026 setelah sebelumnya mengeluhkan rasa sakit akibat sepatu sekolah yang sudah kekecilan.

Cerita Mandala viral di media sosial dan memicu empati publik. Banyak warganet menilai kisah ini menjadi gambaran nyata tentang kondisi ekonomi sebagian pelajar di Indonesia yang masih hidup dalam keterbatasan.

Mandala diketahui merupakan siswa kelas XI di SMKN 4 Samarinda. Remaja berusia 16 tahun itu berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya telah meninggal dunia, sementara sang ibu sehari-hari berjualan risoles untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Kondisi ekonomi yang sulit membuat Mandala belum bisa membeli sepatu baru meski ukuran kakinya terus bertambah.

Tetap Sekolah dan Magang Meski Menahan Sakit

Menurut informasi yang beredar, sebelum meninggal dunia pada April 2026, Mandala tetap menjalani aktivitas sekolah seperti biasa, termasuk mengikuti program praktik kerja lapangan (PKL) atau magang.

Dalam kegiatan tersebut, ia harus berdiri dan berjalan dalam waktu lama. Sementara sepatu yang dikenakannya disebut sudah tidak sesuai ukuran kaki. Bahkan di media sosial ramai disebutkan bahwa Mandala memakai sepatu ukuran 40 meski ukuran kakinya seharusnya sekitar 44.

Akibat kondisi tersebut, Mandala beberapa kali mengeluhkan sakit di bagian kaki. Kakinya juga dikabarkan sempat mengalami pembengkakan.

Meski begitu, Mandala tetap berusaha menjalani sekolah dan magang tanpa banyak mengeluh.

Pihak sekolah disebut sempat mengetahui kondisi tersebut dan berinisiatif membantu mencarikan sepatu baru. Namun bantuan itu belum sempat diterima hingga akhirnya Mandala meninggal dunia.

Sekolah Sebut Belum Ada Bukti Medis

Pihak SMKN 4 Samarinda menegaskan bahwa belum ada bukti medis yang menyatakan sepatu kekecilan menjadi penyebab langsung meninggalnya Mandala.

Sekolah menyebut Mandala tidak pernah menjalani pemeriksaan medis secara menyeluruh sehingga penyebab pasti kematiannya belum dapat dipastikan.

Meski demikian, kisah Mandala tetap memicu perhatian luas dari masyarakat. Banyak pihak menilai persoalan utamanya bukan semata soal penyebab medis, tetapi fakta bahwa masih ada pelajar yang kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar seperti sepatu sekolah layak.

Ironi Anggaran MBG Jadi Sorotan

Di tengah viralnya kisah Mandala pada Mei 2026, publik juga menyoroti kabar mengenai anggaran pengadaan semir dan sikat sepatu senilai Rp 1,5 miliar dalam program MBG atau Makan Bergizi Gratis.

Anggaran tersebut disebut digunakan untuk kebutuhan kebersihan dan operasional. Namun di media sosial, banyak warganet mempertanyakan prioritas penggunaan anggaran tersebut.

“Masih ada siswa yang tidak mampu membeli sepatu, tapi ada anggaran miliaran untuk semir sepatu,” tulis salah satu komentar warganet yang viral.

Perbandingan dua isu tersebut membuat publik menilai ada ironi dalam kondisi sosial saat ini.

Di satu sisi, pemerintah menjalankan berbagai program besar untuk mendukung kebutuhan siswa. Namun di sisi lain, masih ada anak sekolah yang harus bertahan menggunakan sepatu tidak layak karena keterbatasan ekonomi.

Kisah Mandala Jadi Pengingat

Kasus Mandala menjadi pengingat bahwa persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan fasilitas belajar atau program sekolah, tetapi juga kebutuhan dasar siswa sehari-hari.

Banyak anak dari keluarga kurang mampu tetap datang ke sekolah dan menjalani aktivitas seperti biasa meski menghadapi berbagai keterbatasan yang tidak terlihat.

Kisah Mandala yang mencuat pada Mei 2026 kini menjadi perhatian publik sekaligus memunculkan diskusi soal pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan siswa, termasuk kebutuhan dasar seperti seragam dan sepatu sekolah.

Di media sosial, banyak warganet berharap tidak ada lagi anak yang harus menahan sakit demi tetap bisa bersekolah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *